Social Icons

Pages

27 February 2006

Tunggu Kabar Dari ku

Kawanku, lama kita tak bersua
Bercerita tentang kita
Dan kita bercerita tentang hidup
Di lembah ini kita terpuruk
Di puncak ini kita berdiri
Melalui lembaran mega bertalian
Kita sandarkan semuanya pada Nya
Pelangi yang telah mewarnai birunya langit
Telah mewarnai sisi kehidupan waktu kita
Akan aku beritakan pada kehidupan lama
Bahwa aku kan merangkul semua cita
Bersama, kita rangkai bebatuan ini menjadi menara
Tunggu kabar dari ku , kawanku

Gabah Kesedihan

Beralasankah bila melati menebar aroma bangkai tubuhku ?
Tersandungkah bila kaki melewati bebatuan terjal nan tajam ?
Tidakkah aku telah berjalan di atas jalan kehidupan
Seperti anak yang tersesat di hutan rimba ?
Dan tidakkah hidupku seperti sebuah gabah yang mengarah ke bebatuan
Hingga tiada burung yang mencari dan membuka jubah gabah ku ?
Semua membuat aku tak mengerti ,
Pencarian sebutir gabah tidak di tumpukkan jerami pesawahan
Namun burung itu mencari di sebuah tumpukkan batu yang tersembunyi
Aku hanya terhanyut dalam kesendirian dan kesedihan yang meriak di lautan
Namun kesedihanku yang berujung deraian air mata tak membuatku terpuruk
Air mata yang aku deraikan lebih suci dari pada tawa seorang yang lupa diri
Dan lebih manis dari pada penghinaan para pencela
Air mata membersihkan hati yang terserang kebencian
Dan mengajarkan aku untuk berbagi penderitaan
Bersama orang-orang yang hancur hatinya
Kesedihan yang aku pikul akan berubah menjadi kegembiraan dengan ijin Nya
Suatu saat nanti kau dan mereka akan memahami bahwa kesedihan dan kemiskinan
Adalah pelajaran tentang Cinta dan Persamaan

Perpisahan

Memang benar kita dapat memendam jutaan tahun perpisahan
Perpisahan tidak lain hanyalah tandus keringnya ingatan
Barangkali kita tidak mengerti arti perpisahan abadi
Manakala kita menyalami dan melambaikan selamat tinggal pada masa lalu
Dan kita akan selalu menatap indah nya masa depan dengan tegak

Puisi Kehidupan

Di remang senja ingatan abadi, kita akan berjumpa lagi
Bertukar kata dengan puisi yang lebih berisi
Dan apabila kita sempat bersentuhan di alam mimpi
Mari tegakkan menara langit menjulang tinggi

Dan akan kita susun puisi itu menjadi suatu cerita kehidupan
Ditaburi kesejukan taman di surga meski kita harus sadar
Kegerahan panas jiwa pengisi neraka akan menyelami diri kita
Hingga tersungkur ke dalam jurang kehinaan yang paling dalam

Ujung Pengembaraan

Wahai jiwa-jiwa seperjuangan dan seperjalanan
Kita akan selalu menunggu lonceng kebebasan menggema
Namun telahkah kita mengarungi samudera penuh bahaya,
Telahkah kita mendaki gunung-gunung tertinggi dengan tebing dan jurangnya,
Telahkah kita hadapi amukan badai dan taufan hingga usai
Telahkah kita terlilit lapar dan dahaga yang mendera kita
Mungkin seringkali kita meraih hidangan mewah pengantin
Seringkali kita terdampar bukan tanpa busana namun menggunakan jubah raja
Amat jauh jarak yang akan kita tempuh saat menunggu detik kebebasan
Akan kah kita mengikuti perjalanan takdir yang telah digariskan NYA
Atau kita mengikuti perjalanan nafsu amarah yang kita gariskan
Dan hingga menemukan ujung pengembaraan kita
Bersama Cinta Sejati Maha Pemilik Cinta atau bersama para pendusta

22 February 2006

Tegar

Sekian lama sudah tak terdengar lagi bunyian yang menyesakkan nafasku
Namun sesak nafasku telah menjadi daging dalam tubuhku
Sehingga setiap jiwa ingin merobek kulit ku dan memotong daging ku

Namun suara-suara gundah telah tiba dengan bergerilya
Memekakan telinga harapan dan menidurkan tali impian

Namun segelas air panas penghangat jiwa selalu menemani
Meluruhkan setiap noda yang kan hinggap atau mendarah
Ingin ku buang, ingin ku lupakan, namun 4JJ1 berkehendak lain

Terima kasih jiwa penumbuh setiap asa peluruh setiap luka

Cinta Dan Waktu

Aku tak ingin duduk atau berjalan di derasnya sungai angan-angan
Yang bermain dengan arus ketidakpastian

Keabadaian yang sering didendangkan dan bersemayam dalam diri kita telah mengenal waktu
Serta mengetahui bahwa kemarin hanya kenangan dan esok adalah harapan
Apa yang bernyanyi merenung di dalam jiwa adalah penghuni ruang semesta bersama bintang-bintang yang bertaburan di angkasa

Apakah kita tak pernah percaya bahwa cinta kedalamannya tak terduga ?
Siapa pula yang belum mengerti bahwa kasih sayang sejati tanpa batas berlabuh dalam setiap diri
Ia tak pernah bergerak dan berpindah tempat dan tak pernah berbuat manakala diam atau pun berbuat

Seperti halnya cinta, waktu pun tak mengenal batas ukuran , serta tak dapat di bagi
Namun jika harus membagi menjadi musim-musim

Biarlah setiap musim merangkul musim lainnya
Biarlah hari ini merangkul masa lalu sebagai kenangan

Tanah Ladang

Aku tengah menggemburkan tanah ladangku
Setelah kering karena kemarau panjang
Diguncang gempa dan angin badai

Aku tengah mencoba merapikan tanah ladangku
Menyisir puing-puing penderitaan ku ke pesisir
Bercocok tanam kejujuran, keterbukaan dan ketegasan
Berharap buah kesabaran, keihklasan, lapang dada

Mencoba menyirami tanamanku dengan cinta sejati
Yang aku dapatkan dari pancaran sinar Ilahi Robbi

Entah apa yang petani lain lakukan pada tanah ladangku
Mencabut belatung yang membelenggu tanah kehidupan baru ku
Atau menebar puing-puing dan sampah ke tengah tanah ladangku

Aku tak pernah tahu . . . namun aku tetap membisu
Tapi aku kan terus melangkah tuk mencapai panen melimpah
Dan aku akan bagikan hasil panen dan kumpulan isi hati ku

Jujur saja

Jujur saja hati ini menangis
Jujur saja jiwa ini berontak

Namun aku bukan aku yang dulu
Seperti sampah dalam limbah pabrik

Aku meringis terhantui bayangan kelabu
Aku merintih terlukai jiwa yang berlumur dosa

Namun 4JJ1 menguatkan hati dan jiwa ini
Memberikan yang terbaik untuk ku

Jujur saja hati ini menangis kala kau bicara aku di masa lalu
Jujur saja hati ini berontak kala kau bicara aku di masa lalu
Karena aku tak ingin melewati dan mengingatnya

Ini coretan yang tak terhapuskan oleh perubahan musim
Namun aku terima sebagai persembahan terbaik dari 4JJ1

21 February 2006

Teruslah Melangkah Ukhti

Teruslah melangkah ukhti. Kan kita cari bersama Cinta dalam senyum-Nya.
Jangan lagi ragu. Jangan. Karena tak tahan diri ini, tanpa teman dalam perjalanan.

Tetaplah bersamaku mencari: Pemilik Cinta Sejati.

Jika kulelah melangkah. Beri aku semangat. Bila aku kehilangan arah.
Tunjukanlah. Ke mana kita akan terus melangkah.

Penemuan Negeri Cahaya

Dan telah kulayarkan lagi mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri
Negeri di mana pohon-pohonya beranting cahaya berbuah cahaya

Telah lama kulayarkan mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri
Angin menderu perahu terpelanting berulang kali tenggelam aku berkali-kali

Sampai ku bertemu sebuah negeri Di matamu yang cahaya

Aku tak ingin lagi memasuki negeri tak pasti
Karena sudah di matamu yang cahaya
Hingga menderaikan airmata, menderas, hingga berlinangan cahaya
Cahaya keyakinan pada Ilahi
Cahaya atas nama syahadah

Apa Arti Keterbukaan ?

Ukhti, aku telah mendengar tangisan jiwa mu
Dan aku telah datang untuk mencoba memahami mu
Bukalah hatimu untukku dan aku akan mengisinya dengan cahaya
Begitu pula aku yang hanya membukakan satu ruang untuk kau isi dengan cahaya

Ukhti, meski aku mencoba untuk mengerti
Apa arti pikiran-pikiran ini yang datang seperti kawanan merpati ?
Apa arti kata-kata yang kita ingin susun dengan hasrat dan kita tuliskan untuk menggapai cahaya Ilahi ?
Apa arti semua kejujuran yang ingin aku ungkapkan jika bukan untuk sekedar menghilangkan segala prasangka ?
Milik siapa mata-mata ini yang menatapku dan menusuk relung jiwaku yang paling dalam, namun melupakan suka dan duka citaku ?

Ukhti, aku hanya sekedar manusia yang mengisi kekurangan dan kekelebihan ku sendiri
Aku hanya sekedar manusia yang mengisi kelemahan dan kekuatan ku sendiri
Aku ingin mengisi diriku dengan kemurahan hati dan sangat mengaharapkan ciuman dari bibir kehidupan abadi
Sementara kematian siap menghantam wajahku dengan keterbukaan ku.
Aku pun bukan orang yang ingin membeli satu jam kesenangan dengan satu tahun penyesalan dan menyerahkan diri ku untuk tidur
Sementara mimpi-mimpi masa lalu tetap memanggilku

Ukhti, aku hanya tak ingin memungkiri itu pernah terjadi namun bukan untuk terjadi lagi ...
Takkah kau ijinkan aku mengambil pelajaran dari sebuah kesalahan karena tindakkan ku ?

Cerita Usang

Aku orang yang percaya sekaligus masih juga seorang peragu
Bertapa seringnya jariku menekan lukaku sendiri
Sekedar untuk menghayati keimanan yang kau miliki
Dan memahami ilmu lebih dalam dari yang orang-orang miliki

Dengan keyakinan dan pengetahuanku
Aku ingin mengatakan bahwa manusia itu tidak terkurung dalam raga
Tidak terikat pada rumah tinggal dan ladang rutinitas
Diri manusia yang sejati selalu menjelajahi gunung
Mengembara di atas awan

Namun aku bukan seorang yang menyerah
Hanya sekedar memberi pengertian dan rasa maklum
yang tersungging dari seyuman bibirku

Dengan rasa masa lalu yang melintasi benak ku
Dan tak pernah aku mengundangnya
Mungkin angin keraguan yang mencoba membisikanku

Namun sungguh, tak pernah ku ijinkan tuk hinggap di hatiku
Hanya sebuah cerita usang Jika kau memahami aku
Bagaimana aku harus membahasakan ini dengan bahasa mu ?

Rasa dan CInta

Aku ingin bicara cinta
Cinta yang tumbuh begitu saja

Aku ingin bicara rasa
Rasa yang mekar begitu saja

Katakan semua pada kabut yang menghalangi segala pandangan
Terlepas dari keangkuhan tajamnya nafsu yang menusuk jantung
Terlepas dari keangkuhan pedasnya dogma yang merajam jiwa

Aku tetap tak bisa bicara cinta dan rasa
Sehingga....

Aku merasa menganga jurang kebisuan yang tak terjembatani
Melalui rasa dan cinta yang bertunas di kedalaman lembah hati ku

20 February 2006

Tiba

Penantian menuju serapan alasan jingga
Tak berarti kebebasan di tangan jiwa suci
Berlari menerobos malam tragis
Tak kunjung aku ingin tegak berdiri
Diselimuti hamparan jubah hitam di atas sana

Pengasingan akal yang tertantang
Menggali hasrat dan mimpi tuk berkembang
Beterbangan aroma rasa tercantik dari kembang terpilih

Hingga saat tiba
Aku tetap melangkah mencari arti semua ini

Aku berhenti di Sini

Aku pergi menenangkan jiwa hampaku
Menunggu tanya yang berujung jawab
Diam tak mampu menghentikan harap
Gerak tak mampu menghentikan gundah
Saat semua terhenti aku ingin berteriak
Suka atau duka ... aku pun tak pernah tau
Sampai aku berhenti di sini menunggu esok

Tarian Jiwa

Ceria aku terpampang di wajah lunglai ku
Seindah jari ku menari di atas kanvas
Bergerak gemulai bak balerina anggun
Memberi arti setiap lentik jarinya

Aku Tetap di Sana

Biarkan aku tetap di sana Mencari ‘aku’ dalam diriku
Hingga aku mengerti ‘aku’ dalam diriku Dan berjalan sebagai ‘aku’ sesungguhnya
Sampai aku merasa berada di sini bersama ‘aku’ Meski sekarang aku tetap di sana

14 February 2006

Larik Kehidupan

Peranan diri yang bertepi
Melalui kaca jendela aku melirik
Oh.. betapa diri ku ini begitu berarti
Saat langkah ini menjadi sebuah larik

Larik yang mengajarkan terangnya dunia
Bersama kunang-kunang penuntun kegelapanku

Larik yang meredupkan perih penatku
Bersama bintang-bintang penghias jalanku

Larik yang tergumpal dari ayat-ayat langit nan abadi
Menghujam setiap jiwa tuk menjadikan sebagai larik kehidupan

Dunia Adalah Saksi

Biarkan isi dunia ini menjadi saksi
Bahwa aku pendobrak segala kebuntuan
Mengukir segala perdamaian di setiap jiwa

“Aku haus kebebasan !!!”
Akan ku ucapkan dengan lantang
Melalui setiap goresan abadi
Terangkai ayat-ayat kehidupan