Wahai Pelukis Cinta Abadi
Saat bulan yang kau janjikan telah tiba
Aku merasa kehilangan Kau
Selama bulan ini berjalan
Aku pun belum jua menemukan Kau
Hati semakin gelisah tatkala Kau hanyalah sebuah nama
Hati semakin gundah tatkala Kau hanyalah sebuah sejarah
Jangan biarkan hati ini rapuh lusuh dan tak teracuhkan
sehingga Kau enggan melukis cinta hidayah Mu dalam jiwa ku yang kosong
sehingga Kau enggan menggoreskan pena aqidah dalam qolbu ku yang kian membusuk
wahai Pelukis Cinta Abadi jangan biarkan kanvas ini kotor terdampar di beranda dosa
wahai Pelukis Cinta Abadi sucikanlah kanvas ini dalam samudera Asma Ghofur Mu
wahai Pelukis Cinta Abadi warnailah kanvas ini dengan satu warna saja..........
Warna Tauhid dalam Samudera Rahman Rahim Mu ... yang selalu bersanding
Dalam pangkuan Arasy Mu.....
30 January 2006
23 January 2006
Perbedaan
Apakah ada perbedaan kini dan dahulu ?
Beda adanya aku dan engkau di muka bumi ini
Beda antara ceriaku dan ceriamu kini
Beda diantara hariku dan harimu yang terlewati
Apakah ada perbedaan ?
Jelas terlihat beda yang membentang antara kini dan dahulu
Kini kutahu semua makna dan sakral itu
Kini kubisa mengeja semua symbol dengan makna yang terkandung
Kini kudapat membeda yang baik dan yang tak baik untuk kulakoni
Apakah terdapat beda antara kita ?
Yaa, antara kita sangatlah berbeda....
Kamu berjalan di maqom yang telah tertaqdir untukmu
Aku berlari di atas maqom yang telah terahir untukku
Aku seorang yang mendamba seorang akhwat yang sholehah tuk arungi bahtera
Engkau mendamba seorang ikhwan yang kan dampingi menuju surga hakiki
Mengapa beda ?
Karena aku dan kamu emang terlahir dalam perbedaan
Karena setiap umat memanglah selalu berbeda ada dan tiadanya
Karena dari perbedaan itu aku dan kamu khan di satukan dalam mahligai indah
Karena dari perbedaan itu aku dan kamu kan bersama dalam taman kebahagian hakiki
Beda adanya aku dan engkau di muka bumi ini
Beda antara ceriaku dan ceriamu kini
Beda diantara hariku dan harimu yang terlewati
Apakah ada perbedaan ?
Jelas terlihat beda yang membentang antara kini dan dahulu
Kini kutahu semua makna dan sakral itu
Kini kubisa mengeja semua symbol dengan makna yang terkandung
Kini kudapat membeda yang baik dan yang tak baik untuk kulakoni
Apakah terdapat beda antara kita ?
Yaa, antara kita sangatlah berbeda....
Kamu berjalan di maqom yang telah tertaqdir untukmu
Aku berlari di atas maqom yang telah terahir untukku
Aku seorang yang mendamba seorang akhwat yang sholehah tuk arungi bahtera
Engkau mendamba seorang ikhwan yang kan dampingi menuju surga hakiki
Mengapa beda ?
Karena aku dan kamu emang terlahir dalam perbedaan
Karena setiap umat memanglah selalu berbeda ada dan tiadanya
Karena dari perbedaan itu aku dan kamu khan di satukan dalam mahligai indah
Karena dari perbedaan itu aku dan kamu kan bersama dalam taman kebahagian hakiki
Dua hati
Ratapku pada hati yang terbagi
Memohon kata, meminta ikrar
Miliki seutuhnya.
Sang damba ...
Tidak tersadari, tidak terpungkiri
Ada hati yang menangis disini
Mengisak pada jiwa kasihnya yang terbelah
Memohon kata, meminta ikrar
Miliki seutuhnya.
Sang damba ...
Tidak tersadari, tidak terpungkiri
Ada hati yang menangis disini
Mengisak pada jiwa kasihnya yang terbelah
Kekosongan Jiwa
Bila di hati tidak pernah tumbuh perhatian kepada surga dan neraka
Berupa mengharapkan surga dan berusaha menghindar dari neraka
Maka keinginan dan ketetapan hatinya lemah dan motivasinya retak
Sebab setiap semangat untuk mendapatkan dan beramal untuk surga itu menguat
maka motivasinya juga kuat ...
keinginannya semakin gigih ...
Dan semangat usahanya akan sempurna lagi
Yang jelas ini adalah masalah cita rasa
Didunia ini kebanyakan orang menjalani kehidupan untuk mencari kemuliaan
Bagaimana mencari jalan untuk mendapatkannya Dan berburu kebahagiaan semata
Apakah dia telah salah jalan dan kehilangan rambu-rambunya, akan kita lihat nanti.
Banyak penghuni dunia yang telah keluar darinya
Dan bagaimana merasakan yang pernah ada di dunia
"Apa Gerangan Itu ?" mungkin itu yang ada dalam kepala mu
"Mengetahui 4JJ1" karena Dia ...
Yang menghendaki hidup tenteram nikmat membawa manfaat dalam Din dan dunianya
"Lantas Aku Harus Bagaimana?"
"Jadikanlah dunia seperti hari di mana anda melakukan puasa kemudian berbuka pada saat mati"
"Apakah kau bisa merasakan nikmatnya ?"
Dunia dengan hiasan dan kendaraannya
Dengan istana dan rumah-rumahnya adalah,
Mimpi tidur atau bayangan yang semu
Orang yang Mengetahui 4JJ1 terhadap hal semacam ini takkan pernah tertipu
"Apakah kau termasuk orang-orang yang tertipu?"
==Naudzubillahi mindzalik==
Berupa mengharapkan surga dan berusaha menghindar dari neraka
Maka keinginan dan ketetapan hatinya lemah dan motivasinya retak
Sebab setiap semangat untuk mendapatkan dan beramal untuk surga itu menguat
maka motivasinya juga kuat ...
keinginannya semakin gigih ...
Dan semangat usahanya akan sempurna lagi
Yang jelas ini adalah masalah cita rasa
Didunia ini kebanyakan orang menjalani kehidupan untuk mencari kemuliaan
Bagaimana mencari jalan untuk mendapatkannya Dan berburu kebahagiaan semata
Apakah dia telah salah jalan dan kehilangan rambu-rambunya, akan kita lihat nanti.
Banyak penghuni dunia yang telah keluar darinya
Dan bagaimana merasakan yang pernah ada di dunia
"Apa Gerangan Itu ?" mungkin itu yang ada dalam kepala mu
"Mengetahui 4JJ1" karena Dia ...
Yang menghendaki hidup tenteram nikmat membawa manfaat dalam Din dan dunianya
"Lantas Aku Harus Bagaimana?"
"Jadikanlah dunia seperti hari di mana anda melakukan puasa kemudian berbuka pada saat mati"
"Apakah kau bisa merasakan nikmatnya ?"
Dunia dengan hiasan dan kendaraannya
Dengan istana dan rumah-rumahnya adalah,
Mimpi tidur atau bayangan yang semu
Orang yang Mengetahui 4JJ1 terhadap hal semacam ini takkan pernah tertipu
"Apakah kau termasuk orang-orang yang tertipu?"
==Naudzubillahi mindzalik==
hadirkan jiwamu dalam dirimu, itu saja
Wahai ukhti.....
siang tak selamanya terang
malam tak selamanya gelap
kadang siang di rundung awan hitam....
kadang malam dihiasi para bintang yang bersinar .
wahai ukhti...
inilah kehidupan .....
yang dipenuhi hasrat (cinta dan benci)
apakah kau akan bernostalgia dalam lamunanmu?
apakah kau akan tenggelam dalam kebencianmu?
apakah kau akan hancur dalam tangisanmu?
apakah kau akan biarkan nafsu ini tertawa
dengan indah berdiri dan menginjakmu ?
wahai ukhti....
kau bukan kelelawar hitam yg terbang tengah malam
menebar racun dan membuat busuk buah-buah
kau bukan bunga bangkai yang berdiri tegak
menebar aroma yang menyesakkan nafas-nafas hidup
ukhti... hey ... ukhti... yes... u ...
kau mentari yang terbitkan harapan baru untuk semua orang.....
kau cahaya yang sebarkan awan jingga hingga tersejukkan setiap mata ....
kau melati yang tebarkan senyuman untuk dunia....
berdirilah sekuat kuatnya ....
langkahkan kakimu selama lamanya ....
lompat dan terbang lah setinggi tingginya
hirup udara segar ini sedalam dalamnya ....
katakanlah : "Aku Selalu Tegar Setiap Saat"
katakanlah : "Aku Selalu Siap Setiap Saat"
katakanlah : "Aku Selalu Tersenyum Setiap Saat"
siang tak selamanya terang
malam tak selamanya gelap
kadang siang di rundung awan hitam....
kadang malam dihiasi para bintang yang bersinar .
wahai ukhti...
inilah kehidupan .....
yang dipenuhi hasrat (cinta dan benci)
apakah kau akan bernostalgia dalam lamunanmu?
apakah kau akan tenggelam dalam kebencianmu?
apakah kau akan hancur dalam tangisanmu?
apakah kau akan biarkan nafsu ini tertawa
dengan indah berdiri dan menginjakmu ?
wahai ukhti....
kau bukan kelelawar hitam yg terbang tengah malam
menebar racun dan membuat busuk buah-buah
kau bukan bunga bangkai yang berdiri tegak
menebar aroma yang menyesakkan nafas-nafas hidup
ukhti... hey ... ukhti... yes... u ...
kau mentari yang terbitkan harapan baru untuk semua orang.....
kau cahaya yang sebarkan awan jingga hingga tersejukkan setiap mata ....
kau melati yang tebarkan senyuman untuk dunia....
berdirilah sekuat kuatnya ....
langkahkan kakimu selama lamanya ....
lompat dan terbang lah setinggi tingginya
hirup udara segar ini sedalam dalamnya ....
katakanlah : "Aku Selalu Tegar Setiap Saat"
katakanlah : "Aku Selalu Siap Setiap Saat"
katakanlah : "Aku Selalu Tersenyum Setiap Saat"
Ini bukan puisi
Ini bukan puisi
Ini hanya tangisanku
Lama mengenang
Kesedihan yang menawan
Ini bukan puisi
Ini hanya tagisanku
Kesepian membunuh segala asa
Hingga mati adanya
Ini bukan puisi
Ini hanya tangisanku
Mencoba tuk kembali
Ke alam yang telah lama kutinggalkan
Memang ini bukan puisi
Ini hanya tangisanku
Yang menelanjangi tubuh dekilku
dengan tawamu
Sudahlah....
Ini tak layak untuk dijadikan puisi
Ini hanya tangisanku
Lama mengenang
Kesedihan yang menawan
Ini bukan puisi
Ini hanya tagisanku
Kesepian membunuh segala asa
Hingga mati adanya
Ini bukan puisi
Ini hanya tangisanku
Mencoba tuk kembali
Ke alam yang telah lama kutinggalkan
Memang ini bukan puisi
Ini hanya tangisanku
Yang menelanjangi tubuh dekilku
dengan tawamu
Sudahlah....
Ini tak layak untuk dijadikan puisi
Kau masih berharap di ujung jalan
Aku tahu kau masih di sana..
Diujung jalan dipersimpangan empat arah.
Masih termenung menghitung langkah surut ke belakang.
Tersamar oleh bayang-bayang hitam masa lalu.
Biarkan masa itu tersaput angin.
Walau jejak kaki masih belum penuh terhapus.
Mungkin menunggu waktunya tiba.
Saat mata dan hati menjadi satu sekata.
Aku tahu kau masih menghitung jari.
Antara keberanian untuk mendobrak penjara.
Jeruji besi yang kau ciptakan sendiri
Untuk menghukum jiwa liar di rongga dada.
Tapi waktumu sudah habis.
Sekarang adalah senja menjelang malam.
Sebelum turun perintah bengis mencabut jiwa
Berlari, berlarilah, kejar waktu itu...
Aku tahu kau masih belum sepenuhnya percaya.
Tapi ini adalah halaman terakhir.
Sebelum ditutup tamatlah kesempatan.
Berlari, berlarilah, sebelum ujung jalan...
Aku tahu kau masih berharap panjang.
Tapi aku tak peduli lagi.
Terkutuklah apapun yang kau cari
Masih saja berharap diujung jalan...
Diujung jalan dipersimpangan empat arah.
Masih termenung menghitung langkah surut ke belakang.
Tersamar oleh bayang-bayang hitam masa lalu.
Biarkan masa itu tersaput angin.
Walau jejak kaki masih belum penuh terhapus.
Mungkin menunggu waktunya tiba.
Saat mata dan hati menjadi satu sekata.
Aku tahu kau masih menghitung jari.
Antara keberanian untuk mendobrak penjara.
Jeruji besi yang kau ciptakan sendiri
Untuk menghukum jiwa liar di rongga dada.
Tapi waktumu sudah habis.
Sekarang adalah senja menjelang malam.
Sebelum turun perintah bengis mencabut jiwa
Berlari, berlarilah, kejar waktu itu...
Aku tahu kau masih belum sepenuhnya percaya.
Tapi ini adalah halaman terakhir.
Sebelum ditutup tamatlah kesempatan.
Berlari, berlarilah, sebelum ujung jalan...
Aku tahu kau masih berharap panjang.
Tapi aku tak peduli lagi.
Terkutuklah apapun yang kau cari
Masih saja berharap diujung jalan...
aku masih tertinggal di sini
kucoba lahirkan kata
tapi tak satupun yang tertata
kucoba lahirkan rasa
tapi hanya hampa yang menyiksa
rembulan telah menggantikan mentari
yang telah pulang keperaduannya senja tadi
jarum jam terus berlari
meninggalkan menit demi menit yang berganti
tapi kenapa aku masih tetap di sini ?
kenapa aku masih duduk di bangku tua ini ?
ya, karena kau takut untuk pergi !!!
karena aku takut untuk melangkahkan kaki
hingga aku masih tertinggal di sini
tapi tak satupun yang tertata
kucoba lahirkan rasa
tapi hanya hampa yang menyiksa
rembulan telah menggantikan mentari
yang telah pulang keperaduannya senja tadi
jarum jam terus berlari
meninggalkan menit demi menit yang berganti
tapi kenapa aku masih tetap di sini ?
kenapa aku masih duduk di bangku tua ini ?
ya, karena kau takut untuk pergi !!!
karena aku takut untuk melangkahkan kaki
hingga aku masih tertinggal di sini
18 January 2006
Pandangan Pertama
Biarkan diri ini mabuk dari sebuah kesadaran
Saat ia mengisi ruang kosong di relung hati paling dalam
Tatkala api kerinduan menghangatkan aura tubuh lunglai ini
Ia adalah dawai yang dipetik oleh dewi cinta
Ia adalah tatapan sihir yang siap membutakan jiwaku
Ia merupakan benih yang ditabur sang dewi di ladang cinta
Dibawa oleh kasih sayang dan dipungut oleh jiwa
Mengayuh perahu tenggelam terdampar di karang perasaan
Menapaki keran-keran hasrat yang siap menyirami bunga pikiran
Tatapan pertama bagaikan ruh yang bergerak di atas permukaan air
Tertuliskan dalam guratan takdir NYA...
Saat Tuhan memberikan ia tuk selalu mengisi hatiku
Menuliskan pandangan pertama untuk aku dan ia selamanya....
Oh tuhan .... mimpikah aku
Saat ia mengisi ruang kosong di relung hati paling dalam
Tatkala api kerinduan menghangatkan aura tubuh lunglai ini
Ia adalah dawai yang dipetik oleh dewi cinta
Ia adalah tatapan sihir yang siap membutakan jiwaku
Ia merupakan benih yang ditabur sang dewi di ladang cinta
Dibawa oleh kasih sayang dan dipungut oleh jiwa
Mengayuh perahu tenggelam terdampar di karang perasaan
Menapaki keran-keran hasrat yang siap menyirami bunga pikiran
Tatapan pertama bagaikan ruh yang bergerak di atas permukaan air
Tertuliskan dalam guratan takdir NYA...
Saat Tuhan memberikan ia tuk selalu mengisi hatiku
Menuliskan pandangan pertama untuk aku dan ia selamanya....
Oh tuhan .... mimpikah aku
Kering keronta
Ingatkah kau .... ?
Sadarkah kau .... ?
Ketirkah kau .... ?
Pitamkah kau .... ?
Saat air lautan cinta NYA
Kering keronta oleh tetesan hujan kehidupan sandiwara
Dalam setiap hati yang melangkah dengan caranya.....
Saat birunya langit hamparan kasih sayang NYA
Kering keronta oleh gelap gulita kehidupan fatamorgana
Mungkin saja kau akan menaruh dengan tetesan hujan dan gelap gulita kehidupan
Sadarkah kau .... ?
Ketirkah kau .... ?
Pitamkah kau .... ?
Saat air lautan cinta NYA
Kering keronta oleh tetesan hujan kehidupan sandiwara
Dalam setiap hati yang melangkah dengan caranya.....
Saat birunya langit hamparan kasih sayang NYA
Kering keronta oleh gelap gulita kehidupan fatamorgana
Mungkin saja kau akan menaruh dengan tetesan hujan dan gelap gulita kehidupan
16 January 2006
Berikan aku hidup untuk mencintai dan dicintai Mu
Berikan aku hidup untuk mencintai Mu
Walau mimpi tuk slalu bisa bersama
Walau harap yang melekat dalam pelukan
Beritakanlah kabar di mana diri Mu
Orang-orang bilang Kau lebih dekat dari urat Nadi
Kenapa Kau tak dapat ku temui ?
Malukah diri Mu menemui orang yang ingin menjadi kekasih Mu ?
Tak bisakah aku dan diri Mu saling mencinta ?
Berikan aku hidup untuk dicintai Mu
Jangan Kau hidupkan ruh ini tuk berjasad tanpa cinta Mu
Jangan Kau hidupkan ruh ini jika hanya kelam malam yang menjadi teman
Bukan cahaya barokah yang seperti sering Kau firmankan
Berikan aku hidup untuk mencintai Mu
Karena aku bukan orang yang ingin terlahir
dalam buaian kesedihan, pangkuan kemalangan di rumah penindasan
aku ingin mendengar lagi rangkaian kata penuh makna dan do’a
saat adzan berkumandang sesaat aku mengisi kekosongan isi bumi
Berikan aku hidup untuk dicintai Mu
Jangan palingkan muka suci Mu dihadapanku
Jauhkan pakaian murka Mu dihadapanku
tabutkan gemericik cahaya penuntun langkah kaku ku
Walau mimpi tuk slalu bisa bersama
Walau harap yang melekat dalam pelukan
Beritakanlah kabar di mana diri Mu
Orang-orang bilang Kau lebih dekat dari urat Nadi
Kenapa Kau tak dapat ku temui ?
Malukah diri Mu menemui orang yang ingin menjadi kekasih Mu ?
Tak bisakah aku dan diri Mu saling mencinta ?
Berikan aku hidup untuk dicintai Mu
Jangan Kau hidupkan ruh ini tuk berjasad tanpa cinta Mu
Jangan Kau hidupkan ruh ini jika hanya kelam malam yang menjadi teman
Bukan cahaya barokah yang seperti sering Kau firmankan
Berikan aku hidup untuk mencintai Mu
Karena aku bukan orang yang ingin terlahir
dalam buaian kesedihan, pangkuan kemalangan di rumah penindasan
aku ingin mendengar lagi rangkaian kata penuh makna dan do’a
saat adzan berkumandang sesaat aku mengisi kekosongan isi bumi
Berikan aku hidup untuk dicintai Mu
Jangan palingkan muka suci Mu dihadapanku
Jauhkan pakaian murka Mu dihadapanku
tabutkan gemericik cahaya penuntun langkah kaku ku
Harapku...
Begitu terlintas putik-putik beterbangan di imaji ku
Hanya beberapa yang bisa kutangkap
Meski tak satu pun aroma itu ku raih
Tapi bisa kurasakan dari dekat sedekat aku mengenalku
Akankah hasrat ini beterbangan dan hinggap di salah satu putik itu
Atau akan tenggelam dalam lamunan yang dalam saja
Berharap takdir selalu menggiring kepadanya
Karena NYA lah aku selalu berharap
Di atas tangan NYA aku selalu meminta
Yakin diri NYA akan mendengarkan ku setulus-tulusnya
Tapi hanya harap dirinya akan mendengarkan ku
Langit penantianku semakin membiru
Dibasuh oleh serpihan awan harapan
Yang melintasi akal tandusku
Hingga terus menerangi kegelapan langkahku
Hanya beberapa yang bisa kutangkap
Meski tak satu pun aroma itu ku raih
Tapi bisa kurasakan dari dekat sedekat aku mengenalku
Akankah hasrat ini beterbangan dan hinggap di salah satu putik itu
Atau akan tenggelam dalam lamunan yang dalam saja
Berharap takdir selalu menggiring kepadanya
Karena NYA lah aku selalu berharap
Di atas tangan NYA aku selalu meminta
Yakin diri NYA akan mendengarkan ku setulus-tulusnya
Tapi hanya harap dirinya akan mendengarkan ku
Langit penantianku semakin membiru
Dibasuh oleh serpihan awan harapan
Yang melintasi akal tandusku
Hingga terus menerangi kegelapan langkahku
Tak Sangka
Ketika kesedihan terhapuskan oleh kerinduan
Hanya berselang oleh hitungan hari
Kerumunan muram mulai melunturkan aroma indah itu
Tentangnya aku hanya bisa menduga
Tentangnya aku hanya bisa mengira
Tentang hatinya siapa yang bisa mengira
Hanya dirinya dan Dia yang tahu
Namun tak perlu ditangisi
Namun tak perlu diratapi
Itu hanya imajinasi yang terus menyelimuti
Hati dan prasangka setiap jiwa
Hanya berselang oleh hitungan hari
Kerumunan muram mulai melunturkan aroma indah itu
Tentangnya aku hanya bisa menduga
Tentangnya aku hanya bisa mengira
Tentang hatinya siapa yang bisa mengira
Hanya dirinya dan Dia yang tahu
Namun tak perlu ditangisi
Namun tak perlu diratapi
Itu hanya imajinasi yang terus menyelimuti
Hati dan prasangka setiap jiwa
Ikhtiar seorang hamba
Aku duduk menunggu gaungan adzan maghrib
Menunggu kisaran waktu yang terus berjalan
Berlari mencari keagungan Maha Sempurna
Merintis lirih kerangka kehidupan
Terlandaikan sandaran jiwa yang kian membeku
Melalui jarum-jarum kesunyian
Diantara ada dan keabadian
Menunggu kisaran waktu yang terus berjalan
Berlari mencari keagungan Maha Sempurna
Merintis lirih kerangka kehidupan
Terlandaikan sandaran jiwa yang kian membeku
Melalui jarum-jarum kesunyian
Diantara ada dan keabadian
Pelabuhan Abadi
Aku telah berlayar karena lautan cinta NYA
Bersama awak kapal yang telah terdampar oleh cinta NYA
Menarik pandangan ke depan dan berjuang melawan arus samudera
Menghancurkan tamparan angin yang ingin merobohkan layar keyakinanku
Telah kulihat orang ingin berlabuh di pelabuhan nistanya
Telah kulihat orang tenggelam di terpa angin murkanya
Telah kulihat orang berenang mengikuti hawa nafsunya
Telah kulihat orang terbang bersama mimpi busuknya
Sedikit orang berdiri tegak maupun meronta bertahan menatap masa depan abadi
Mempertahankan layar keyakinan tuk selalu tegak dalam hatinya
Begitu panjang hari-hari penuh penderitaan yang kurasakan di antara dinding batinku
Begitu panjang malam-malam yang kulalui penuh kesepian dan kesedihan
Siapakah orang yang bisa berpisah dengan kesedihan dan kesepian
tanpa rasa pilu di hati ?
Terlalu banyak kepingan jiwaku berserakan di sepanjang samudera ini
Terlalu banyak buah kerinduan berlarian berhamburan diantara samudera cinta NYA
Bukan hanya lembaran baju yang kutanggalkan dari badan ini
Tapi serpihan kulit yang kurobek dengan tanganku sendiri
Bukan pula sekedar sepotong angan yang kulepas nanti
Namun segumpal jantung yang telah dilezatkan oleh rasa takut dan benci
Dapatkah ku selalu menjadi mawar pagi di pagi hari
yang selalu mengharumkan aroma cintaku pada NYA ?
Dapatkah hatiku menjadi sebatang pohon yang berbuah lezat
sehingga dapat kupanen untuk aku berikan kepada mereka yang masih berdiri tegak ?
Dapatkah rasa kasihku deras mengucur melimpah bagai air mancur
sehingga akan terisi penuh gelas-gelas kerinduan mereka tuk sampai pelabuhan abadi ?
Mungkinkah aku menjadi dawai yang dipetik oleh para nakhoda
atau seruling yang ditiup oleh hembusan NYA ?
sebagai awak yang kesepian
Melihat saudara yang terdampar di pelabuhan nista
Melihat saudara yang tenggelam di lautan murka
Dapatkah aku berdiam diri ?
Atau aku ikut berlari bersama mereka ?
Namun hanya satu inginku ? aku ingin pelabuhan abadi
Wahai Pemilik samudera cinta... wahai Pemilik hamparan kuasa
Sampaikan salam ku dan kerinduan ku pada penunggu pelabuhan abadi
Sambut aku dengan senyuman penuh kerinduan dan kehangatan
Seperti aku merindukan diri MU merindukan dekapan kehangatan MU....
Bersama awak kapal yang telah terdampar oleh cinta NYA
Menarik pandangan ke depan dan berjuang melawan arus samudera
Menghancurkan tamparan angin yang ingin merobohkan layar keyakinanku
Telah kulihat orang ingin berlabuh di pelabuhan nistanya
Telah kulihat orang tenggelam di terpa angin murkanya
Telah kulihat orang berenang mengikuti hawa nafsunya
Telah kulihat orang terbang bersama mimpi busuknya
Sedikit orang berdiri tegak maupun meronta bertahan menatap masa depan abadi
Mempertahankan layar keyakinan tuk selalu tegak dalam hatinya
Begitu panjang hari-hari penuh penderitaan yang kurasakan di antara dinding batinku
Begitu panjang malam-malam yang kulalui penuh kesepian dan kesedihan
Siapakah orang yang bisa berpisah dengan kesedihan dan kesepian
tanpa rasa pilu di hati ?
Terlalu banyak kepingan jiwaku berserakan di sepanjang samudera ini
Terlalu banyak buah kerinduan berlarian berhamburan diantara samudera cinta NYA
Bukan hanya lembaran baju yang kutanggalkan dari badan ini
Tapi serpihan kulit yang kurobek dengan tanganku sendiri
Bukan pula sekedar sepotong angan yang kulepas nanti
Namun segumpal jantung yang telah dilezatkan oleh rasa takut dan benci
Dapatkah ku selalu menjadi mawar pagi di pagi hari
yang selalu mengharumkan aroma cintaku pada NYA ?
Dapatkah hatiku menjadi sebatang pohon yang berbuah lezat
sehingga dapat kupanen untuk aku berikan kepada mereka yang masih berdiri tegak ?
Dapatkah rasa kasihku deras mengucur melimpah bagai air mancur
sehingga akan terisi penuh gelas-gelas kerinduan mereka tuk sampai pelabuhan abadi ?
Mungkinkah aku menjadi dawai yang dipetik oleh para nakhoda
atau seruling yang ditiup oleh hembusan NYA ?
sebagai awak yang kesepian
Melihat saudara yang terdampar di pelabuhan nista
Melihat saudara yang tenggelam di lautan murka
Dapatkah aku berdiam diri ?
Atau aku ikut berlari bersama mereka ?
Namun hanya satu inginku ? aku ingin pelabuhan abadi
Wahai Pemilik samudera cinta... wahai Pemilik hamparan kuasa
Sampaikan salam ku dan kerinduan ku pada penunggu pelabuhan abadi
Sambut aku dengan senyuman penuh kerinduan dan kehangatan
Seperti aku merindukan diri MU merindukan dekapan kehangatan MU....
Teruskan hidup
Aku meratapi setiap lengkung tubuhmu
Menawarkan racun kerinduan dalam setiap dahagamu
Meneteskan air mata kesyahduan di kerlipan mata bathinmu
Aku melewati semua pintu hatimu
Menawarkan kunci kehidupan yang kian ternodai
Menapaki puncak tubuh kehancuran yang tak pernah sampai kudaki
Aku menyelami lautan darah keagunganmu
Mengalir deras dan tak pernah berhenti bernyanyi
Mengisi saluran ketulusan yang penuh keihklasan
Berdiri tegak dan teruskan hidupmu....
Menawarkan racun kerinduan dalam setiap dahagamu
Meneteskan air mata kesyahduan di kerlipan mata bathinmu
Aku melewati semua pintu hatimu
Menawarkan kunci kehidupan yang kian ternodai
Menapaki puncak tubuh kehancuran yang tak pernah sampai kudaki
Aku menyelami lautan darah keagunganmu
Mengalir deras dan tak pernah berhenti bernyanyi
Mengisi saluran ketulusan yang penuh keihklasan
Berdiri tegak dan teruskan hidupmu....
13 January 2006
bingung mau nulis apa ???
sudah sekian kali aku bingung ingin menulis apa
apa yang hendak aku tulis saat ini
tema apa yang ingin aku tanam
hmm .. cinta .. terkadang telah membosankan penulisnya
hmm .. sosial .. terkadang tak pantas untuk penyendiri
adakah masukan wahai sahabat-sahabat ku ?
mungkin kau bisa berbagi cerita dengan ku
di sini di tempat ini
agar ku tak seperti mengurung diri
apa yang hendak aku tulis saat ini
tema apa yang ingin aku tanam
hmm .. cinta .. terkadang telah membosankan penulisnya
hmm .. sosial .. terkadang tak pantas untuk penyendiri
adakah masukan wahai sahabat-sahabat ku ?
mungkin kau bisa berbagi cerita dengan ku
di sini di tempat ini
agar ku tak seperti mengurung diri
Antara aku dan kamu
Saat bilik-bilik ini membatasi antara aku dan kamu
Mata ini kan seranai menata pikiran tuk meredakan ratapan akalku
Mendengar rintihan telinga yang tak kan mendengar desahan keagungan
Deburan darah mulai menyempitkan kerinduan nadiku
Tiupan angin mulai menyesakkan kecanduan nafasku
Tak tau kapan hatimu bisa mengalir di atas ruh keimananku
Berlabuh di pelabuhan kalam takdir NYA
Antara aku dan kamu
Mata ini kan seranai menata pikiran tuk meredakan ratapan akalku
Mendengar rintihan telinga yang tak kan mendengar desahan keagungan
Deburan darah mulai menyempitkan kerinduan nadiku
Tiupan angin mulai menyesakkan kecanduan nafasku
Tak tau kapan hatimu bisa mengalir di atas ruh keimananku
Berlabuh di pelabuhan kalam takdir NYA
Antara aku dan kamu
Biarkan
Biarkan jari ini menari di kesunyian
Biarkan kesunyian ini terlelap diselimuti ketakutan
Biarkan ketakukan ini tumbuh hanya di alam impian
Biarkan impian ini terbang bersama angan-angan tak nyata
Biarkan kesunyian ini terlelap diselimuti ketakutan
Biarkan ketakukan ini tumbuh hanya di alam impian
Biarkan impian ini terbang bersama angan-angan tak nyata
Tanpa
Aku melihat camar pagi berkicau dengan ceria
Membangunkan jiwa di balik keranda kemalasan
Pergi terbang dan pasti terus bernyanyi
Menebarkan cerita dan canda di meja kehampaan
Membangunkan jiwa di balik keranda kemalasan
Pergi terbang dan pasti terus bernyanyi
Menebarkan cerita dan canda di meja kehampaan
Subscribe to:
Posts (Atom)






